Selamat datang diwebsite LACENCER SPADE

Anda dapat menemukan beberapa fakta pendidikan dan referensi lainnya diSINI
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2011

Aku Terpaksa Menikahinya.....

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Senin, 08 Agustus 2011

mereka melindas harapanku

Kuparkir motorku dihalaman rumah, kupandangi wajah kekasihku yang semakin cantik dan menarik , rambuut terurai lurus di bawah bahunya  rasanya sudah ingin kuberada dalam pelukannya semalam suntuk melepas segenap kerinduan yang tertangkup selama 5 tahun. Aku mendekatinya, tanpa  sepatah katapun kuraih tangannya. kucium dengan hikmat. dalam dan kubawah resapan aroma cintanya menelusuri sendi-sendi jiwaku yang nyaris membeku lalu kubawa ia dalam dekapanku, kubiarkan aku dan di berlabuh dalam pelukan, kuurekatkan bibirku di keningnnya, lalu keubun-ubun kepalanya, dan sejenak dibibirnya. Harum nafasnya masih seperti dulu lalu kubawa kembali dalam rengkuhanku, kurasakan setiap getaran kerinduan itu mengalir melewati pembuluh darahkku menuju pembuluh darahnya, kuresapi pelukannnya yang erat, ketat seolah tak mau melepasku selamanya. Andai kupunya kuasa, ingin rasanya kuhentikan putaran waktu sampai beberapa jam kedepan,”” Sayang kau nyaris membuatku gila”” bisikku ditelinganya. Tak ada suara yang terlontar dari bibir manisnya kecuali nafas yang yang teratur keluar masuk dan keluar lagi lalu masuk kembali ke lubang hidung mungilnya, diiringi degupan jantung yang berirama Tanya. Entah apa yang ada dalam benaknya saat itu, segenap kerinduan yang membuat dadanya sesak?? Atau mungkin kebencian akibat perpisahan yang cukup lama menimang penantiannya dalam sepi??
Perlahan ia longgarkan pelukannya, tapi aku masih tetap mendekapnya erat,ia  lalu mendorong tubuhku dengan keras seolah berusaha lepas dari jepitan benda berat yang mengapitnya. Dorongan itu membuatku lepas dari pelukannya secxara paksa.
“”Kenapa sayang???”” tanyaku bersamaaan dengan mendaratnya sebuah tamparan yang ia layangkan kemukaku dengan keras lalu menangis.
“”Sudah terobatikah rindumu???”” katanya terisak
“”Ada apa denganmu??”” tanyaku kemudian. Ia masih menangis, dan semakin menangis.
“”RE…”””
“”ANDRE””” Tegurnya Sambil sambil tersedu dan menunduk
“”Ia sayang, kamu kenapa??””  berusaha lunak dan tetap perhatian
“”Aku sudah menikah”” katanya datar diiringi tangisnya yang meledak
Kukerutkan keningku, aku terdiam sesaat  lalu menysul gelagak tawaku
“””Hahaha…hahahah..”” kutunggu tawanya menyusul tapi dia tetap menunduk
“”Yank…ini bukan saatnya bercanda””. Kataku
“”Saya tidak bercanda””
Aku terdiam kutelaah kalimat yang baru saja kudengar dari mulutnnya ada rasa tak percaya bergelayut dalam benakku.
“”Aku tak percaya…itu tidak mungkin sar…tidak mungkin, kau masih kekasihku yang dulu, bukankah ada janji yang pernah kita tautkan sesaat sebelum aku pergi menempuh pendidikan di negeri orang???”” ungkapku setengah percaya dan mencoba meyakinkan
“”Ndre, ya kita sama-sama pernah berjanji. tapi waktu telah mengubah segalanya mengubah mimpi-mimpi yang tak pasti itu menjadi debu. Debu harapan yang telah dilindas angin tak berarah.
Kuangkat dagunya perlahan tapi pandangannya tetap kelantai rumah bertegel putih  itu. Air bening bembanjiri pipinya.
“”Sar…tatap mataku!!!””
“”Tidak”””
“”Tatap mataku…”” kataku sedikit memaksa
“”Tidakk…””” katanya dengan nada yang tak kalah tingginya
Ditepisnya tanganku dengan keras, bahkan tanpa perasaan,
“”Kenapa..Sar….kenapa???? Apa salahku???””
“”Kenapa kau tega tebaskan pedang tajammu ketika aku lemah oleh penantian dan kerinduan??, kenapa kau regas segenap pucu-pucuk pengahrapanku, yang selama ini kujaga dalam dalam lahan hatiku?? Apa kau tahu, di negeri sana aku menghitung hari dan berharap bisa segera bersua denganmu, lalu kau mempertemukanku dengan keluargamu utuk sebuah hubungan yang lebih serius””. Sungguh kenyataan ini tidak bisa kuterima, terlalu sakit untuk kutahan, teramat berat untuk kutopang dengan ketegaran. Tak kurasa sebentuk bening mengembang di kelopak mataku
Sementara SARI hanya bisa menangis sejadi-jadinya
“”Kenapa kau lakukan itu padaku???”” kupegang pundaknya dengan kedua tanganku, kkuguncang-guncangan tubuhnya seperti hendak menyadarkan orang yang kehilangan akal.
Lagi-lagi dia tepis tangnku, lalu berlari  masuk kedalam rumah menyusul hetakan daun piintu kamar yang terbanting dengan keras. Ada keinginan untuk mengejarnya, tapi tak ada gunanya, taka ada lagi makna kata-kata. Selaksa Tanya yang memenuhi tempurung otakkku hanya mampu akau bawa bersama luka hati menembus kegelapan malam yang semakin pekat

Jangan hargai kesucianmu dengan rupiah

Oleh : Asdar moeh

Ini telepon yang kesekian kalinya, masih dengan suara serak basahnya bercampur lirih.
“”Kak, maukah kau melakukannya denganku??””. Katanya dibalik telepon. Aku hanya bisa menarik nafasku dalam-dalam lalu kuhempaskan dengan keras.
“”Kenapa kak?. Apakah aku kurang menarik dimatamu?? Atau mungkin saya terlalu murahan???.””
Aku masih terpaku. Diam seribu bahasa bahkan tanpa rasa heran.
“”Ayo lah kak !!! bantu aku. Aku sangat butuh uang itu untuk menyelesaikan kuliyahku, terserah kakak mau apakan aku  yang penting aku dapat sejumlah uang yang aku butuhkan itu””.
Aku tetap saja membisu dihadapan telepon genggamku. Inikah realita hidup zaman sekarang?? Komentarku pada batin sendiri.
“”Baiklah kak, kalau memang kakak tidak bisa, biar aku mencari orang yang mau melakukannya denganku””. Kata sumbangnya sempat membuat telingaku.
“”Dek istigfar.!!!. Kataku
“”Masih banyak jalan yang mungkin lebih baik dari jalan yang ingin kautempuh itu. Pikirkan halalnya dek…!!!! Saya tetap akan membantu tapi tidak dengan jalan itu””” .Pintaku dengan sedikit merayu.
“”Apa yang bisa dilakukan oleh gadis seusiaku kak??? Apa??? Kecuali hanya bisa menangis. Apakah aku harus mengemis dipinggir jalan sambil mengais dan menarik lengan baju orang-orang berdasi dan bersaku tebal itu??. Katanya mengiba
“”Dek, sabar dulu…nanti kita cari jalan keluarnya mari kita pikir dengan kepala dingin””.bujukku kembali.
“”tapi, kak aku harus dapat uang itu sebelum Tanggal 8 padahal sekarang sudah tanggal 30, mana mungkin saya bisa dapat uang seebanyak Rp.2 juta hanya dalam jangka waktu seminngu??.
“”Baiklah nanti kita bicarakan kembali. InsyaALLAH kita pasti bisa mendapatkan uang  dengan jumlah yang kamu butuhkan itu sebelum tanggal 8. Tapi ingat kau harus janji untuk tidak nekat apalagi sampai harus melakukan  hal yang satu itu’’.
“Baiklah…””katanya sebelum menghilang dibalik telepon genggamku.


*****
Aku berusia 25 tahun saat ini sebagai lelaki normal akupun kerap  merindukan keindahan sentuhan wanita seperti para pria pada umumnya. Keadaan ini membuatku bingung, kekalutan membalut sekujurku, gadis manis yang masih duduk di bangku kuliyah itu  acap kali menantang kelelakianku. Meskipun tak secantik dan sehebat NIKITA willy, namun  dia termasuk dalam kategori lumayan untuk ukuran gadis (versi-ku). Aku tahu, Melda (begitu ia disapa) adalah gadis baik-baik, karena aku mengenalnya sejak dua setengah tahun yang lalu disebuah tempat rekreasi yang kerap kukunjungi setidaknya melepas penat sekaligus mencari titk-titk inspirasi. Sejak pertemuan itu, kami kerap berkomunikasi lewat layanan telekomunikasi meskipun sekedar nanya kabar, bahkan malam minggu tidak pernah ia lewatkan mengirim pesan singkat ucapan “”met malam minggu””.
Entah iblis apa yang merasuki pikirannya hingga dua minggu terakhir ia semakin sering menghubungiku, semakin akrab dan bahkan tak jarang ia mengeluarkan kata-kata rayuan, kangen dan sebagainya, belum sempat kutemukan jawabnya, perubahannya berlanjut dan semakin mencengankanu, kini bahkan mencapai derajat  270 kesisi negatif.
“”Apa yang membuatmu berfikir untuk melakukan hal yang serendah itu mel??””. Kataku  suatu hari ketika kami sempatkan diri untuk bertemu disebuah taman kota.
“” Ceritanya panjang Kak””. Jawabnya singkat
“”Saya banyak waktu untuk itu, lagi pula kehadiranku disini memang dengan niat itu””. Aku berusaha membujuknya agar mau bercerita tentang masalah yang dihadapinya, tentang perihal yang mungkin mengoyak dan mencabik-cabik hatinya.
“”Kak,..lihat orang itu..!!!””  sambil mengalihkan pandangannya ke orang yang dimaksud.
“” maksudmu orang yang berdasi itu???. Kataku sambil memperhatikan orang yang sedari tadi sedang asyik berdiskusi dengan rekannya layaknya seorang pejabat tinggi negara.
“” Iya,.. senang ya jadi orang kaya””Katanya sambil tersenyum entah apa yang sedang dia pikirkan.
“” Dari kecil aku tidak pernah merasa sulit mendapatkan apa yang aku inginkan, cukup bilang mau ini… mau itu  ayah selalu dapat mewujudkannya. satu tahun yang lalu  ayah meninggal dalam sebuah kecelakaan , saya masih belum bisa terima bahkan tidak percaya kalau ayahku meninggal dalam kecelakaan itu, tapi aku sudah terlalu lama menuggu, sampai detik ini beliau belum juga datang pada kami. Aku, Ibu, dan seorang adik kecil yang kini beusia 2 tahun betul-betul merasa kehilangan. Saya kadang-kadang perotes kepada TUHAN , kenapa DIA begitu cepat memanggil orang yang setiap hari member kami makan. Semenjak kepergian ayah ibu, sakit-sakitan dan gampang marah, tak jarang pula ia memukuli adikku, kadang-kadang diam dan duduk seharian dalam kamar tanpa suara. Harta yang ayah tinggalkan sudah ludes kecuali rumah yang kami tinggali. Mungkin besok atau lusa rumah kamipun ibu jual., bulan lalu aku masih bisa pakai motor kekampus sebelum ibu menjualnya untuk keperluan makan kami sehari-hari ‘’’’.
“”kak..saya tidak tahu jalan yang harus ku lalui saat ini, aku rapuh, lemah dan tak berdaya, apa lagi dari kecil saya tidak penah ditempa dengan getirnya dunia. Bagaimana meneruskan cita-citaku menjadi seorang pengacara, bahkan iuran kuliyah pun, aku tak tahu dimana harus dapat””. Lanjutnya
“”Kenapa tida kamu coba minta sama ibu kamu?? Mungkin beliau punya persediaan untuk itu..”” kucoba memberi saran.
“” Aku pernah mencobanya, tapi ibu malah marah-marah dan menyuruhku untuk berhenti kuliyah””.
“”Kak…tahu tidak aku pernah berniat untuk pergi dari rumah, tapi aku juga takut pada kehidupan diluar sana.Sekarang kakak tahu betapa miskinnya aku didunia ini, bukan Cuma miskin harta, tp juga miskin ketabahan, apalagi harapan””
“”mel…sabar ya…aku tahu semua pasti ada jalan keluarnya, saya janji akan membantumu””. Bujukku kembali sambil memegang tangannya.
“”makasih kak…jujur satu hal yang senantiasa aku syukuri karena memiliki seseorang yang seperti kakak””. Katanya sambil memelukku. Entah itu kalimat pujian atau mungkin memang saat ini ia tak punya seorangpun yang bisa ia tempati bersandar kecuali aku. Entahlah tapi Aku tak peduli semua itu, aku hanya bisa merasakan dekapannya yang erat seolah tak mau melepasku, kubiarkan dia menangis dipundakku, kubiarkan dia menumpahkan segala keluh-kesahnya padaku.


*****

Kamis, 4 mei 2005
Kulangkahkan kakiku menuju gedung tempat dimana aku merambah nafkah untuk hidup di negeri ini, negeri yang tidak seindah negeri moyangku, negeri yang telah memberiku gelar diploma, negeri yang kuharapkan dapat memberiku sebuah lencana berharga dalam hidup dan masa depanku kelak. jemari-jemari cahaya kemilau membelai bumi seiring  benih-benih cinta yang mulai tumbuh di lahan hatiku yang gersang, hati yang tidak pernah kupenuhi harapannnya, hati yang hanya kusuap dengan menu akademisasi untuk waktu yang lama.  rasa itu datang secara pelan namun langsung menyerang dan melumpuhkan nahkoda hatiku dan menyeretnya ke samudera cinta yang sulit kumengerti.  aku selalu ingin bersamanya, aku selalu ingin mendengar suaranya, mendengar ia bercerita panjang lebar tapi kali ini bukan tetang buah hidup yang semakin ranum, tapi tentang perasaan indah yang mulai membusung yang  nyaris menyumbat nafas hatiku dan mungkin hatinya.
Aku kembali teringat dengan uang yang ia butuhkan itu
Sebenarnya kau memiliki sejumlah uang yang ia butuhkan, tapi akupun sangat membutuhkannya untuk pembayaran skripsi kuliyah studi lanjut yang kutempuh saat ini. Dalam batinku kemudian berperang antara, rasa kasihan cs cinta versus konak cs acuh. “”kenapa aku harus berpusing-pusing peduli dengannya?? Aku kan juga banyak masalah, kenapa tak kubiarkan saja dia  mencari jalannya sendiri dan kulepaskan dia dari hidupku, selesai sudah.”” Pikirku
“” Ahhh,,… tidak aku harus membantunya kasihan dia, Dia bahkan  rela menjual diri demi pendidikan dan cita-citanya”
“”Tapi apa aku harus memberinya secara Cuma-Cuma?? Ataukah  kunikmati dulu tubuhnya yang menawan itu???””
“”Ahhh.. ini juga tidak mungkin, itu bukan aku bukan Azban namanya kalau harus mengambil kesempatan dalam kesempitan, tidak mungkin saya mau mengambil keuntungan dari orang yang sedang susah, itu bukan membantu namanya, apalagi sama dia””. Disela-sela renungku tiba-tiba aku tersentak kaget  oleh getaran hp yang sedari tadi kugenggam di tangan kananku.
Mhelda sweet memanggil….
“”Kak…ada teman yang menawarkanku pekerjaan . katanya dia berani membayarku 5 juta dalam satu hari”. Katanya dibalik telepon
Sontak aku tambah kaget mendengan kabar itu, hingga membuatku naik pitam.
“”Pekerjaan apa yang dapat gaji semahal itu???””. Tanyaku setengah tidak percaya
“”ada dehhhh…yang pasti kan dapat uang”””. sambungnya
“””Tidak…tidak boleh itu pasti pekerjaan tidak baik””. bantahku
“”Saya kan Cuma butuh uangnya, pekerjaannya tidak penting apapun kan kulakukan, bukankah 5 juta itu sudah lebih dari cukup?? kakak tidak perlu repot-repot membantuku lagi pula paling Cuma satu orang dan satu kali.””
“”Apanya yang satu orang…??? Apanya yang satu kali??? Kamu itu tega yaaa…”” suaraku dengan nada tinggi.
“”Tega ??? maksud kakak???””
“”Akhhhh…pokoknya tidak boleh. Kamu itu mau jadi apa haaa ??? saya heran dengan pola pikirmu, tidak bisakah kau sedikit lebih tegar lalu berusaha??? Saya tidak bisa terima kalau kau harus melakukan hal serendah itu””
“”Lalu aku harus bagaimana kak???”” ucapnya lirih disela-sela tangisnya
“”Begini saja saya akan dapatkan sejumlah uang yang kau butuhkan itu,  jangan khawatir saya pastikan dalam 2 hari kau sudah bisa mengambil uangnya jadi kau tidak perlu melakukan apa-apa tidak ada tawar-tawaran dengan orang yang tidak jelas itu”” Kataku mencoba meyakinkan
“” Satu lagi yang harus kau tahu jika kamu berani melakukan hal yang satu itu, maka saat itu juga saya buakan lagi siapa-siapamu”” ceramahku dengan nada yang lebih tinggi
“” Iya… kak”” jawabnya singkat

Sabtu, 6 mei 2010
Lembaran-lembaran kertas berserakan diatas meja kerjaku, tak kuhiraukan. Kedipan-kedipan kursor pada monitor note-book membuat mataku semakin sayu, Proposal yang biasanya bisa kuselesaikan tiga hari masih tinggal separuh selesai padahal sudah empat hari kukerja.
Aku mulai kacau, pikiranku tersekat pada kotak-kotak perasaan yang berbaur kalut dan peluh . aku kemudian tersudut pada ruang sempit dengan otak yang semakin picik.
Masa pembayaran skripsi tiba, uang yang sudah kupersiapkan sebelumnya sepertinya tidak untuk tujuan yang saya rencanakan, hal ini membuatku semakin kalut dan berfikir keras. Proposal bantuan dana seminar pendidikan  belum kelaar juga. “”Apa yang harus kulakukan””” pikirku. Aku terpaksa menggadaikan motorku untuk itu, sekalian melunasi utang-utang yang sebelumnya saya pinjam sama teman.
“”mel aku sudah siapkan uangnya, pulang kuliyah kamu boleh singgah mengambilnya di kost saya””
“” OK bossss...””  Balasnya singkat.
Tak lama berselang melda pun tiba di tempat kosku langsung masuk dikamar dimana aku sedang mengotak-atik keyboard PC. Kupandangi dia dalam beberapa detik, ternyata penutup kepalanya telah dibuka sebelum masuk, rambutnya ia biarkan terurai, rasa kagum tiba-tiba muncul dalam hati kecilku “cantik juga dia” pikirku tapi  Aku tak ingin berlama-lama menatapnya.
“” Uangnya diatas meja kau boleh menghitungnya”” kataku sambil menatap kedipan kursor pada monitor PC. Sejurus kemudian ia kembali berdiri di dekatku. dekat, dekat dan merapat.
“”Kak..”” tegurnya datar
“”Kenapa uangnya tidak cukup???”” kataku msih menatap dalam layar monitor untuk menutupi kegugupanku.
“”Kakak”” ucapannya kali ini seperti seorang anak yang merengek kepada ibunya meminta dibelikan mainan. Aku terpaksa menoleh kearahnya. Dan .... AstagfiruLLah ternya dia telah melepas kancing-kancing busana atasanya, aku kaget bukan main, jantungku tiba-tiba berdegup kencang  aliran darahku melaju mungkin dengan kecepatan 120Km/jam. Aku terkesima melihat pemandangan yang terhampar didepanku, mulutku sejenak terkunci, bagaimana tidak seumur-umur baru kali ini aku melihat patung dewi kwam in dalam wujud hidup. Ketika ia hendak melepas busana itu dari tubuhnya, aku bergerak terbangun( bangkit dari duduk maksudnyaJ). Dan menggenggam tangannya, aku berniat mencegahnya meskipun pada dasarnya aku sangat menikmati keindahan pemandanagan itu.
“” Mel..jangan lakukan itu”” bujukku sambil memasang kembali satu demi saau kancing blesternya yang sempat tebuka.
“”Kak, saya hanya tidak mau mengecewakan kakak”” katanya sambil menatap mataku dalam, dalam hingga kurasa menembus jantung hatiku.
“”Kecewa????, mel justru saya kecewa sama kamu kalau kau melakukan itu, apa gunanya saya mencegahmu melakukan hal itu dengan orang lain jika pada akhirnya saya pun melakukannya denganmu dengan alasan yang sama, kalau begitu apa bedaanya saya dengan mereka???”” kataku mencoba memberi pemahaman.
“”Kak, saya hanya merasa didunia ini tidak ada yang gratis. Lagian aku tidak tahu jalan apa lagi yang harus aku tempuh untuk membalas budi baik kakak, lalu bagaimana saya membayarnya kak???””
Katanya sambil tertunduk disela-sela isak tangisnya.
“”Betul kamu ingin membalas budi saya mel???”” kataku sambil memegang pundaknya dan mendekatkan wajahku di wajahnya.
“” kalau kamu menganggap ini adalah kebaikan dan berniat ingin membalas kebaikan itu, maka kau harus janji satu hal untukku””. Lanjutku
“”Dia hanya mengangguk”” entah sebagai isyarat setuju atau mungkin tak sanggup mengiayakan kata-kataku.
“”Jangan pernah hargai kesucianmu dengan rupiah””. kataku
“”Saya berjanji kak””. Ucapnya kemudian. Tanpa kusadari sebuah kecupan tulus mendarat telak dikeningnya sebelum dia berlabuh dalam pelukanku.kubalas dekapan itu sambil mengelus-elus punggungnya, layaknya seorang saudara. Dekapan itu mengubah harga rupiah  menjadi sebuah senyum yang senantiasa tersungging dibibirku dan saya tahu senyum dan maknanya itu akan tetap berhaga untukku selamanya bahkan melebihi harga dua juta rupiah.

galery photos

galery photos
cakep_keren_gagah_wibawah_brutal_jelek